Mengapa Abu Vulkanik bias membatalkan penerbangan? Penjelasan penutupan bandara dan panduan bagi penumpang
Memahami alasan abu vulkanik dapat mengganggu penerbangan, menyebabkan penutupan bandara
Diposting pada 09 September 2026 13:45
Bagi para pelancong, pembatalan penerbangan secara mendadak tentu menjadi hal yang tidak menyenangkan. Rencana liburan yang sudah disusun rapi bisa tertunda seketika. Di Indonesia, salah satu penyebab utama gangguan jadwal penerbangan adalah aktivitas gunung berapi yang mengeluarkan abu vulkanik.
Sebagian orang mungkin bertanya: mengapa partikel yang tampak seperti debu biasa ini memiliki dampak yang begitu besar hingga menutup operasional bandara?
Berikut penjelasan mengenai bahaya abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan.
- Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa

Banyak orang mengira abu vulkanik sama seperti debu jalanan atau abu hasil pembakaran kayu. Faktanya, abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan keras, mineral, dan kaca vulkanik dengan partikel yang sangat halus dan tajam.
Material ini bersifat abrasif (mengikis) dan memiliki bobot yang cukup berat. Saat terjadi letusan, abu terlempar tinggi ke atmosfer dan dapat terbawa oleh angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari titik letusan.
- Mengancam Kinerja Mesin Jet Pesawat

Bahaya terbesar dari abu vulkanik terletak pada mesin pesawat. Mesin jet beroperasi pada suhu yang sangat tinggi. Ketika partikel abu vulkanik masuk ke dalam mesin:
- Partikel batuan dan kaca vulkanik tersebut akan meleleh akibat suhu panas ruang bakar.
- Cairan lelehan ini menempel pada bagian bilah turbin dan saluran udara mesin.
- Saat mendingin, lelehan tersebut mengeras kembali dan menyumbat aliran udara.
Kondisi ini dapat membuat mesin kehilangan daya dorong secara tiba-tiba, bahkan mati total di udara. Selain itu, sifat abu yang tajam dapat mengikis komponen logam di dalam mesin.
- Mengaburkan Kaca Kokpit dan Jarak Pandang Pilot
Partikel abu vulkanik yang melayang di udara dapat membentuk lapisan kabut tebal yang mengurangi jarak pandang pilot secara signifikan.
Di samping itu, saat pesawat melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam menembus awan abu, gesekan partikel keras tersebut dapat menggores kaca depan ruang kemudi (kokpit) hingga menjadi buram. Lampu pendaratan pesawat pun menjadi kurang efektif karena tertutup lapisan abu.
- Menyumbat Sensor dan Alat Ukur Ketinggian
Pesawat modern sangat bergantung pada instrumen navigasi yang presisi. Abu vulkanik berpotensi masuk ke dalam tabung sensor udara (pitot-static tube) yang berfungsi mengukur kecepatan udara dan ketinggian pesawat. Jika sensor ini tersumbat, data yang diterima pilot menjadi tidak akurat, sehingga membahayakan kendali penerbangan.
- Sulit Terdeteksi oleh Radar Cuaca

Tantangan lain bagi dunia penerbangan adalah abu vulkanik sulit terdeteksi oleh radar cuaca pesawat maupun radar pengawas lalu lintas udara. Partikel abu berukuran sangat kecil dan tidak memantulkan gelombang radar layaknya butiran air atau es pada awan hujan biasa. Dari kejauhan, awan abu sering kali terlihat sama persis dengan awan normal.
Oleh karena itu, maskapai dan otoritas bandara sangat mengandalkan laporan satelit dan pemantauan geologi untuk memastikan rute yang dilalui benar-benar bersih dari material vulkanik.